Thanks My Family, Good Bye My Memory..



November 10, 2013
 Hari terakhir di keluarga ini, keluarga Duncan Hugh Greig yang selama 3 minggu saya tempati. Yang selama 3 minggu saya repotkan. Yang selama 3 minggu saya abisin makanan di kulkasnya.


Sedih banget rasanya. Jam 9 malam, tiba tiba pintu kamar ada yang ngetok. Ternyata Emily. Dia bilang, mungkin besok pagi kita nggak bakal ketemu lagi karena gue harus berangkat pagi banget. Jadi ini terakhir kalinya kami ketemu. Dia peluk gue, matanya sayu berkaca kaca...sumpeh dah gue nggak sanggup.. bener bener deh. Dia lepasin pelukan, dengan polosnya bilang kita harus ketemu lagi ya. Gue bales "we will meet each other again next time :)" Dia liat mata gue. Gue liat matanya semakin berkaca - kaca. Dia peluk gue lagi untuk yang terakhir kalinya. Sedih banget rasanya.. Gue tunjuk boneka Koala pemberian dia, gue bilang "itu sengaja nggak di packing masukin koper, biar bisa di pegang terus, jadi bisa inget Emily. Jangan sedih lagi ya." Dia diem, kembali senyum, dan mengucap good bye dan good night..

Gift dari Emily
Walau cuma 3 minggu gue kenal dia, gue kenal keluarga ini, mereka bener bener ngasih yang terbaik buat saya yang bukan siapa siapa mereka. Bukan saudara, bukan kerabat, apalagi anak sendiri. Karena hari ini hari terakhir di rumah, mereka ngajak lunch di luar. Di restaurant Jepang entah apa namanya, di daerah Eastwood. Seperti biasa, mereka selalu nanya: kamu suka nggak makanan ini? kamu mau nggak makanan ini? Selalu nyoba ngertiin. Dan lucunya, setiap makan, mereka selalu nyoba cari yang pedas karena mereka tau makanan disini kebanyakan datar nggak berasa :'D

Lunch untuk yang terakhir kalinya
Dad yang selalu nganterin ke bus station tiap pagi beserta si kucing Jazzy dan si kucing Mitty. Mom yang selalu nyiapin lunch dengan bejibun makanan di dalamnya. Cameron yang selalu bareng bareng di bus. Dan Emily yang selalu keluar ngajak main, berenang, dan lari lari. I will miss all of you.. Yah. I already missed all of you, my new family. :')

Mitty, Jazzy, dan Dad Duncan yang selalu nemenin tiap pagi ke bus station
Lunch yang disiapin mom Nicole isinya selalu bejibun, tapi tetep kelaperan
Cameron, Chikky, Goldy, selalu main bareng
Emily yang dengan riangnya ngajak main scooter tiap sore
atau ngajak berenang bareng Kaya, anak tetangga temen baik Emily 
Jazzy yang selalu menatap iba minta badannya di elus dan di grepe grepe
Meja yang selalu dipake untuk dinner
Dessert yang selalu dibawakan Dad ke kamar tiap malem. "aku tau kamu masih laper" katanya :'|
Terima kasih banyak untuk semua hal, untuk semua perhatian yang telah kalian berikan, untuk semua kebaikan yang setiap hari kalian tunjukan, untuk setiap senyuman yang kalian lepaskan. Untuk setiap kata "Good morning" yang selalu kalian ucapkan.

 Saya akan benar benar merindukan kalian.. ya..
 Semoga kita bisa bertemu lagi suatu saat nanti..

Good Bye..

Journey In Sydney


Semua terasa berbeda di sini, Sydney. Ya, sangat berbeda. Cuaca… Rasa... Bahasa... Harga… Terasa berbeda dan menyiksa. Mungkin di sini kami diuji, untuk melihat dan meresapi seberapa tangguh kami beradaptasi. Untuk bertahan dan melawan tantangan agar tetap terus berjalan. Tetap tegak dan mampu berdiri.



Pengalaman baru, tempat baru , teman baru. Suka tidak suka, mau tidak mau, segala hal yang baru pasti bertemu. Takut, malu, benci, segan, ragu, tak tahu, semua jadi satu. Merasa paling hijau diantara lautan dalam yang biru. Merasa berbeda dan takut tak sama. Paradigma itu mulai terkikis, ketakutan itu mulai menyusut. ketika senyum sapa mulai terasa, ketika sambut hangat selalu didapat. Semangat untuk terus mencoba dan membaur kembali bertabur. Terasa sangat bahagia ketika segalanya dihargai dan diapresiasi. Selalu mengucap “Thank You” dan “Sorry”, bukti saling menurunkan ego hati.



Terkadang kami sendiri yang merusak itu. Terkadang kami sendiri yang menganggap usaha kami tidak baik. Salah ini. Salah itu. Gerakan yang tak sama dan pelaksanaan yang kurang tertata membuat kami saling beradu, membuat kami kecewa pada sesama. Tapi tunggu?! Mereka sama sekali tidak mempermasalahkan yang kami masalahkan! Mereka tetap tertawa dan bahagia, kagum dan terpesona.



Teruntuk 17 orang sahabat, keluarga, sekaligus orang tua yang selalu mengajak, menghibur, mendukung. Ada disaat sepi, disaat tak tahu mau kemana, disaat rindu dengan masa lalu. Terima kasih karena telah memberikan satu hal yang begitu sangat berarti,  amat sangat berarti.. Senyum. Ya, senyum tulus kalian, tanda keramahan dan kecintaan. Tanda saling menerima dan percaya. Bukti saling mencinta dan terbuka. Simbol kebahagiaan yang akan terus terkenang.



Terima kasih Tuhan, terima kasih teman, terima kasih Sydney.